Make your own free website on Tripod.com


Publikasi Katalog Download Kontak kita
Warsidi memulai pengembaraannya dalam sejarah kemanusiaan sejak Selasa malam, 15 November 1977, dari sebuah perbukitan sunyi di ujung barat Kabupaten Cilacap. Adalah keterbatasan fisik, hanya satu dari sepasang matanya yang bisa berfungsi dengan tidak terlalu optimal yang dibawanya sejak lahir, mungkin yang menjadikan Warsidi sebagai pribadi yang berkemauan keras. Jauh terbenam di alam bawah sadarnya adalah keinginan untuk selalu setara dengan atau bahkan melebihi kebanyakan manusia. Itulah barangkali yang menjelaskan mengapa, meskipun sejak awal karir pendidikan formalnya Warsidi tidak pernah bisa melihat tulisan-tulisan di papan tulis atau slide yang terbentang di depan kelas, saat ini ia justru tengah menjadi peserta pada Program Pascasarjana UGM bidang ilmu Akuntansi, salah satu cabang ilmu sosial yang justru sangat mempersyaratkan ketelitian penglihatan. Ya, begitulah Warsidi...kita lihat saja apa hasil akhir dari pengembaraannya.
Bagi yang belum terlalu dekat mengenalnya, pribadi Warsidi mungkin terkesan angkuh, sombong, dan kaku. Tapi sekali seseorang memahaminya lebih mendalam, barulah tampak figur Warsidi yang lembut hati, introspektif, dan mudah mengakui kesalahan. Tri Kartin Handayani juga tak pernah ragu mengakui kekasihnya sebagai pribadi yang romantik....
Tri Kartin Handayani (biasa dipanggil Tri atau Kartin) adalah pribadi yang dikenal sebagai gadis pendiam (terutama kalau lagi tidur). Dilahirkan di tengah hiruk-pikuknya Jakarta, 21 April 1976, Kartin kecil adalah anak manis yang selalu berusaha memenuhi pengharapan orang-orang di sekitarnya.
Pengharapan terbesar terutama datang dari sang ayah. Pengharapan pada sang anak yang penurut dan pintar inilah yang akhirnya telah mengantarkan Kartin ke sebuah kota kecil di tengahan Jawa, Purwokerto. Di tempat inilah Kartin melangsungkan studi kesarjanaannya di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman yang sekaligus adalah tempat perjumpaannya dengan Warsidi yang terpilih untuk menjadi pasangan bagi hidupnya....
Bagi Warsidi, hadirnya figur kelembutan yang konkrit ini dalam hidupnya bermakna lebih dari sekedar penawar kepenatan atau ladang subur bagi tumbuhnya para pewaris hidup. Lebih jauh, Kartin adalah guru dan sekaligus murid baginya. Bersama-sama memberi makna pada kehidupan yang masih tersisa untuk menggapai kesempurnaan....

 

[Teras | Info Situs | Tentang Kita | Galeri | Curriculum Vitae | Publikasi | Katalog | Download | Kontak Kita]

Designed by Warsidi, S.E., Ak.
First published: August 9, 2001
Last modified: March 26, 2002