Make your own free website on Tripod.com

Publikasi Katalog Download Kontak kita

EVALUASI KEGUNAAN RASIO KEUANGAN
DALAM MEMPREDIKSI PERUBAHAN LABA
DI MASA YANG AKAN DATANG :

Suatu Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta

 

(Naskah ini pernah dimuat pada Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi, Vol. 2 No. 1 2000 yang diterbitkan oleh Program Magister Manajemen Universitas Jenderal Soedirman)

Oleh :
WARSIDI, S.E., Ak. (Alumbus FE Unsoed/Mahasiswa Pascasarjana UGM)
Dr. Bambang Agus Pramuka, M.Acc., Ak. (Dosen FE Unsoed)

 

ABSTRAKSI

 

Penelitian ini menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang.  Pengujian dilakukan dengan menggunakan sampel random sebanyak 54 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.  Dengan menggunakan metode pemilihan variabel stepwise regression dianalisis sejumlah 49 rasio keuangan untuk diketahui hubungan liniernya dengan perubahan laba satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh rasio keuangan terbukti signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang.  Meskipun secara umum hasil ini konsisten dengan beberapa temuan penelitian sebelumnya, akan tetapi secara individual rasio-rasio keuangan yang ditemukan di dalam penelitian ini masih menunjukkan inkonsistensi dengan temuan-temuan tersebut. 

Perluasan temuan penelitian ini adalah bahwa rasio keuangan ternyata juga signifikan dalam memprediksi perubahan laba dua tahun dan tiga tahun yang akan datang.  Dengan mengulang aplikasi stepwise regression untuk masing-masing periode prediksi tersebut, diperoleh bukti statistik bahwa lima rasio keuangan signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang, sedangkan untuk tiga tahun hanya dua rasio keuangan yang signifikan.  Kecenderungan berkurangnya jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba dengan semakin panjangnya periode prediksi juga diikuti dengan semakin kecilnya angka koefisien determinasi yang menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang semakin rendah.

Table of Contents

 

  1. Pendahuluan

    1. Latar Belakang Penelitian

    2. Permasalahan

    3. Tujuan Penelitian

    4. Kegunaan Penelitian

  2. Tinjauan Literatur

    1. Tujuan Pelaporan Keuangan

    2. Analisis Rasio Keuangan

    3. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba

    4. Hipotesis

  3. Metode Penelitian

    1. Sifat dan Desain Penelitian

    2. Spesifikasi Variabel

    3. Sampel dan Data

    4. Metode Analisis

  4. Analisis Data dan Pembahasan

    1. Deskripsi Penelitian

    2. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Satu Tahun yang Akan Datang  

    3. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba DuaTahun yang Akan Datang  

    4. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Tiga Tahun yang Akan Datang  

    5. Perbedaan Model Prediksi antar Periode  

  5. Kesimpulan dan Implikasi

    1. Kesimpulan 

    2. Implikasi

  6. Daftar Pustaka

  7. Lampiran

 

I. Pendahuluan 

A.  Latar Bulking Penelitian

Di dalam masyarakat bisnis, akuntansi dikenal sebagai bahasa.  Hal ini dikarenakan fungsi akuntansi yang merupakan media komunikasi di antara para pelaku bisnis dan ekonomi.  Informasi akuntansi sebagaimana tersaji di dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan perusahaan memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan pada saat tertentu, prestasi operasi dalam suatu rentang waktu,  serta informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengan perusahaan yang bersangkutan.  Ditinjau dari sudut pandang manajemen, laporan keuangan merupakan media bagi mereka untuk mengkomunikasikan performance keuangan perusahaan yang dikelolanya kepada pihak-pihak yang  berkepentingan, sedangkan ditinjau dari sudut pandang pemakai, informasi akuntansi diharapkan dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang rasional dalam praktek bisnis yang sehat.

Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan.  Salah satu teknik tersebut yang populer diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan.

Analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan resiko dan  peluang  yang  melekat  pada  perusahaan  yang  bersangkutan.  Makna dan kegunaan  rasio keuangan dalam praktek bisnis pada kenyataannya bersifat subjektif tergantung kepada untuk apa suatu analisis dilakukan dan dalam konteks apa analisis tersebut diaplikasikan (Helfert, 1991).

Pesatnya perkembangan yang terjadi pada pendekatan positivistik dalam penyusunan teori akuntansi telah mendorong dilakukannya studi-studi akuntansi yang menghubungkan rasio keuangan dengan fenomena-fenomena akuntansi tertentu, dengan harapan akan dapat ditemukan berbagai kegunaan objektif rasio keuangan.  Beberapa yang telah dilakukan di antaranya adalah yang menguji kegunaan rasio keuangan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan (Winakor dan Smith, 1930;  Altrman, 1968; Dambolena dan Khoury, 1980; Whittred dan Zimmer, 1984; Houghton, 1984; Robertson, 1985; Thomson, 1991), memprediksi keuntungan saham (O’Conner, 1973;   Ou dan Penman, 1989; Barlev dan Livnat, 1990), memprediksi bond rating (Pinches dkk, 1973; Lee dkk, 1982), menggolongkan perusahaan merger (Simkowitz dan Monroe, 1971; Rege, 1984), dan memprediksi perubahan laba (Freeman dkk, 1982; Ou, 1990; Penman, 1992; Machfoedz, 1994; Zainuddin dan Hartono, 1999).

Akan tetapi, berbagai temuan dari penelitian yang telah dilakukan tersebut sebenarnya masih jauh dari memadai jika yang diinginkan adalah sebuah konstruksi formal teori analisis rasio keuangan.  Ini terlihat dari hasil-hasil penelitian yang masih cenderung tidak konsisten untuk waktu dan tempat yang berbeda.  Beberapa di antaranya bahkan kontradiktif terhadap yang lainnya.

Dalam konteks permasalahan inilah, penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengujian lebih lanjut temuan-temuan empiris mengenai rasio keuangan, khususnya yang menyangkut kegunaannya dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang.  Pemilihan laba akuntansi sebagai fenomena yang diprediksi di dalam penelitian ini didasari oleh alasan penelitian-penelitian sejenis masih relatif jarang dilakukan, khususnya di Indonesia.  Jika rasio keuangan dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba di masa yang akan datang, temuan ini tentu merupakan pengetahuan yang cukup berguna bagi para pemakai laporan keuangan yang secara real maupun potensial berkepentingan dengan suatu perusahaan.  Sebaliknya, jika rasio keuangan ternyata tidak cukup signifikan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang, hasil penelitian ini akan memperkuat bukti tentang inkonsistensi temuan-temuan empiris sebelumnya.  Dalam kondisi ekonomi yang dipenuhi ketidakpastian, laba perusahaan, atau mungkin sekali fenomena-fenomena akuntansi lainnya yang mana pun,  tampaknya tidak cukup hanya didekati secara positivistik yang dalam terang metodologinya cenderung mereduksi atau menyederhanakan permasalahan-permasalahan akuntansi yang dalam kenyataannya sangat kompleks.

Akar pemikiran penelitian yang penulis lakukan berasal dari Machfoedz (1994).  Perbedaan penelitian ini dibandingkan dengan yang dilakukan Machfoedz (1994) terletak pada :

  1. Rasio-rasio keuangan yang dianalisis di dalam penelitian ini berjumlah 49, mengalami penambahan dari yang dilakukan Machfoedz (1994) yang berjumlah 47 rasio keuangan.

  2. Periode prediksi penelitian ini meliputi perubahan laba satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang, sedangkan yang dilakukan Machfoedz (1994) hanya meliputi satu tahun dan dua tahun yang akan datang.

  3. Metode pemilihan variabel untuk menganalisis rasio keuangan di dalam penelitian ini diaplikasikan untuk semua periode prediksi.  Ini berbeda dengan yang dilakukan Machfoedz (1994) yang hanya memilih rasio keuangan yang signifikan untuk memprediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang dan kemudian memasukkan rasio-rasio keuangan terpilih tersebut sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang.  Dengan diterapkannya metode pemilihan variabel untuk setiap periode prediksi memungkinkan diperolehnya model prediksi yang berbeda antar periode prediksi yang dianalisis.

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini berjudul EVALUASI KEGUNAAN RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERUBAHAN LABA DI MASA YANG AKAN DATANG :  Suatu Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

B.  Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas, pertanyaan penelitian (research questions) di dalam  penelitian ini terbatas pada :

  1. Apakah rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang?

  2. Apakah rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang?

  3. Apakah rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba tiga tahun yang akan datang?

  4. Apakah rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba berbeda untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang?

C.  Tujuan Penelitian

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengujian lebih lanjut temuan-temuan empiris tentang kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang.  Secara definitif, penelitian ini ditujukan untuk :

  1. Memberikan temuan empiris mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang.

  2. Memberikan temuan empiris mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang.

  3. Memberikan temuan empiris mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang.

  4. Memberikan temuan empiris mengenai perbedaan rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.

D.  Kegunaan Penelitian

Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagi penulis, penelitian ini merupakan pelatihan intelektual (intellectual exercise) yang diharapkan dapat mempertajam daya pikir ilmiah serta meningkatkan kompetensi keilmuan dalam disiplin yang digeluti.

  2. Bagi masyarakat ilmiah, penelitian ini diharapkan akan melengkapi temuan-temuan empiris di bidang akuntansi bagi kemajuan dan pengembangannya di masa yang akan datang.

  3. Bagi masyarakat bisnis, penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan mutakhir mengenai kegunaan prediktif rasio keuangan terhadap perubahan laba di masa yang akan datang.

 

II. Tinjauan Literatur

Bab ini memberikan landasan teoritis berkenaan dengan kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang.  Eksplorasi literatur ditekankan pada perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat.  Hal ini, selain dilandasi oleh paradigma penelitian ini yang berakar pada tradisi pemikiran akuntansi yang dikembangkan di Amerika Serikat, juga disebabkan oleh dinamika yang melatarbelakangi diskursus tersebut  yang memang secara konkrit terjadi di sana.

A.  Tujuan Pelaporan Keuangan

Didirikannya Financial Accounting Standard Board (FASB) yang menggantikan Accounting Principles Board (APB) sebagai lembaga penyusun standar akuntansi di Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an dianggap sebagai revolusi yang terjadi dalam pemikiran akuntansi.  Salah satu perubahan yang tercermin dalam proyek kerangka konseptual FASB adalah ditekankannya tujuan sosial yang luas dari pelaporan keuangan (Hendriksen, 1982).

FASB (1978) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 1 :  Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises dalam kaitan dengan tujuan sosial  yang luas ini menyatakan :

Financial reporting is not an end in itself but is intended to provide information that is useful in making business and economic decisions for making reasoned choises among alternative uses of scarse resources in the conduct of economic activities, ...Accordingly, the objectives of this Statement are affected by the economic, legal, political, and social environment in United States."

Statement tersebut menunjukkan bahwa tujuan pelaporan keuangan diupayakan mempunyai cakupan yang luas agar memenuhi berbagai kebutuhan para pemakai dan melayani kepentingan umum dari berbagai pemakai yang potensial, bukan hanya untuk kebutuhan khusus kelompok tertentu saja (Smith dan Skousen, 1987).

Pelaporan keuangan juga harus mendorong efektivitas pasar modal dan pasar uang dalam mengalokasikan sumber daya yang langka di antara berbagai penggunaan yang kompetitif sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Hendriksen, 1982).

Dalam kaitan ini pula, FASB (1978) menyatakan :

"Financial reporting should provide information that is useful to present and potential investors and  kreditors, and others users in making rational investment, credit, and similar decisions."

Dari Statement tersebut tampak bahwa meskipun pelaporan keuangan memiliki tujuan sosial yang luas, akan tetapi orientasinya terletak pada investor dan kreditor, karena dengan memenuhi kebutuhan mereka maka hampir semua kebutuhan dari para pemakai eksternal lainnya akan terpenuhi.

Setelah menetapkan tujuan sosial yang luas yang merupakan tujuan menyeluruh dari pelaporan keuangan, FASB juga menggariskan beberapa tujuan khusus yang salah satu di antaranya menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang bermanfaat untuk menaksir arus kas di masa yang akan datang (Smith dan Skousen, 1987).

Hal ini akan membantu kepada investor, kreditor, dan pemakai lainnya, baik yang sekarang maupun yang potensial, dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas dari dividen dan bunga di masa yang akan datang (Zainuddin dan Hartono, 1999).  Tujuan ini mengasumsikan bahwa investor menginginkan informasi tentang hasil dan resiko dari investasi yang dilakukan (Hendriksen, 1982).

FASB (1980) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 2 :  Qualitative Characteristics of Accounting Information menyatakan  bahwa kualitas yang membedakan antara informasi yang "lebih baik" (lebih bermanfaat) dengan informasi yang "kurang baik" (kurang bermanfaat) terutama terletak pada kualitas relevansi dan keandalannya ditambah dengan beberapa karakteristik lainnya yang berlaku untuk kualitas tersebut.  FASB mendefinisikan informasi yang relevan sebagai informasi yang akan mengakibatkan timbulnya perbedaan.  Informasi yang relevan dapat memperteguh, atau sebaliknya, memperlemah pengharapan yang ada.  Jadi, relevansi selalu dikaitkan dengan nilai umpan balik dan nilai prediktif (Smith & Skousen, 1994).

Adanya nilai prediktif ini menunjukkan bahwa informasi akuntansi seperti yang tercantum dalam pelaporan keuangan dapat digunakan oleh investor sekarang dan investor potensial dalam melakukan prediksi penerimaan kas dari dividen dan bunga di masa yang akan datang.  Dividen yang akan diterima oleh investor akan tergantung pada jumlah laba yang diperoleh perusahaan di masa yang akan datang (Zainuddin & Hartono, 1999), sehingga prediksi laba perusahaan dengan menggunakan informasi pelaporan keuangan menjadi sangat penting untuk dilakukan.

B.  Analisis Rasio Keuangan

Perkembangan analisis rasio keuangan dapat ditelusuri ke pertengahan akhir abad ke-19 yang digunakan oleh industri di Amerika Serikat.  Horrigan (1968) sebagaimana yang dikutip dari Zainuddin dan Hartono (1999) mencatat bahwa pada masa revolusi industri analisis rasio keuangan mulai dilakukan seiring dengan semakin pentingnya laporan keuangan yang dipublikasikan di dalam praktek bisnis.  Kenyataan ini terutama dipicu oleh kebutuhan industri akan perluasan modal yang telah mendorong sektor keuangan menjadi kekuatan utama dalam perekonomian.  Di sisi lain, manajemen perusahaan dalam berbagai sektor industri mulai bergeser dari pemilik kepada manajemen profesional.  Dalam konteks ini, rasio keuangan digunakan oleh analis kredit untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya, sedangkan analis manajemen menggunakannya untuk mengukur tingkat profitabilitas (Zainuddin dan Hartono, 1999).

Helfert (1991) memahami rasio keuangan sebagai instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan.  Hal ini menunjukkan bahwa analisis rasio keuangan, meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu tetapi dimaksudkan untuk menilai resiko dan peluang di masa yang akan datang.

Kegunaan sebenarnya dari setiap rasio keuangan ditentukan oleh tujuan spesifik analis.  Lebih lanjut, rasio-rasio keuangan bukanlah merupakan kriteria yang mutlak (Helfert, 1991).  Pada kenyataannya, analisis rasio keuangan hanyalah suatu titik awal dalam analisis keuangan perusahaan.  Analisis rasio tidak memberikan banyak jawaban, kecuali menyediakan rambu-rambu tentang apa yang seharusnya diharapkan (Friedlob dan Plewa, 1996).

Akan tetapi, aplikasi analisis rasio keuangan dalam praktek bisnis serta pengkajian-pengkajian dan studi yang telah dilakukan mengantarkan kepada pemikiran untuk menjadikan rasio keuangan sebagai indikator yang fundamental dalam praktek bisnis dan ekonomi.  Rasio keuangan juga telah digunakan sebagai independent and descriptive variable dalam studi ekonomi.  Bahkan pernah terdapat kecenderungan untuk menggunakan rasio keuangan tunggal seperti ROI (Zainuddin dan Hartono, 1999).

Gilman (1925) seperti yang dikutip oleh Horrigan (1968) menolak penggunaan rasio keuangan sebagai indikator fundamental dengan mengajukan beberapa alasan sebagai berikut :

  1. Perubahan rasio keuangan sebenarnya merupakan angka yang tidak dapat diinterpretasikan karena pembilang dan penyebutnya bervariasi.

  2. Pengukuran rasio keuangan merupakan pengukuran yang bersifat artifisial.

  3. Rasio keuangan mengalihkan perhatian analis dari pandangan terhadap perusahaan secara komprehensif.

  4. Keandalan rasio keuangan sebagai indikator sangat bervariasi di antara setiap rasio.

Di tengah diskursus tentang batasan dan kegunaan rasio keuangan dalam praktek bisnis dan ekonomi, Gibson (1982) telah melakukan survey dalam rangka meneliti pendapat para eksekutif keuangan sehubungan dengan persoalan penting yang berkaitan dengan rasio keuangan di Amerika Serikat.  Untuk keperluan tersebut, Gibson menyebarkan sejumlah kuesioner kepada para kontroler perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Fortune’s 500 Largest Industrial pada tahun 1979.  Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepakatan di antara para responden mengenai rasio-rasio keuangan mana yang dianggap penting, akan tetapi hal tersebut tidak diikuti oleh adanya konsensus mengenai metodologi penghitungannya.

Penelitian tersebut memang dilatarbelakangi oleh kondisi di Amerika Serikat pada waktu itu yang ditandai oleh adanya hambatan untuk melakukan analisis rasio keuangan secara komprehensif.  Hal ini di antaranya disebabkan oleh kurangnya standar yang bisa dijadikan sebagai pedoman untuk menyeragamkan penghitungan rasio keuangan.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa telah terdapat keragaman pemaknaan mengenai urgensi analisis rasio keuangan dalam praktek bisnis dan ekonomi, mulai dari yang menginginkan rasio keuangan tersebut  dijadikan sebagai indikatoe fundamental hingga yang beranggapan minimalis terhadapnya.  Kenyataannya, praktek bisnis yang real masih mengaplikasikan analisis rasio ini sebagai salah satu model analsis keuangan, meskipun relevansinya tentu saja bersifat sangan subjektif, tergantung kepada tujuan dan kepentingan masing-masing analis.

Akan tetapi dengan perkembangan pendekatan positivistik dalam akuntansi, secara teoritis dimungkinkan untuk menemukan kegunaan objektif rasio keuangan yang dikaitkan dengan berbagai fenomena akuntansi lainnya.  Hal inilah yang selama ini tengah dilakukan meskipun hasilnya masih jauh untuk dikatakan memadai jika yang diinginkan adalah sebuah konstruksi formal teori analisis rasio keuangan.

C.  Rasio Keuangan dalam dan Perubahan Laba

Penelitian paling awal mengenai kegunaan objektif rasio keuangan, sejauh yang dapat ditelusuri oleh penulis, adalah yang dilakukan oleh Winakor dan Smith (1930).  Winakor dan Smith menganalisis 21 rasio keuangan selama 10 tahun untuk menentukan rasio keuangan mana yang paling akurat dan bermanfaat sebagai indikator 10 tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.  Winakor dan Smith menyimpulkan bahwa rasio keuangan yang paling akurat dan bermanfaat sebagai indikator kebangkrutan adalah rasio Net Working Capital to Total Assets.  Kelemahan studi Winakor dan Smith adalah tidak digunakannya control group berupa perusahaan-perusahaan yang tidak bangkrut (Zainuddin dan Hartono, 1999).

Penelitian sejenis yang memasukkan control group berupa perusahaan-perusahaan yang sukses dilakukan oleh Altman (1968).  Altman menggunakan sampel sebanyak 66 perusahaan, yang terdiri atas 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan yang tidak bangkrut.  Dengan menggunakan multivariate discriminant analysis, Altman menemukan bahwa rasio-rasio keuangan liquidity, solvency, dan profitability bermanfaat dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan tingkat keakuratan yang semakin menurun seiring dengan semakin lamanya periode prediksi.  Pada periode prediksi satu tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan, rasio-rasio keuangan tersebut bermanfaat untuk memprediksi kebangkrutan dalam tingkat keakuratan 95% yang menurun menjadi 76% pada periode dua tahun sebelum bangkrut, 48% untuk periode tiga tahun, 29% untuk periode empat tahun, kemudian naik lagi 36% untuk periode lima tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.

Sinkey (1978) melakukan penelitian tentang kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kondisi keuangan perusahaan perbankan.  Dengan menggunakan multiple discriminant analysis dalam menguji perusahaan bank yang bermasalah, Sinkey menganalisis 10 rasio keuangan dalam menguji sampel sebanyak 110 perusahaan perbankan.  Dalam penelitian tersebut Sinkey memperoleh bukti bahwa rasio-rasio keuangan yang berguna sebagai prediktor kondisi keuangan perusahaan perbankan secara signifikan berbeda antara perusahaan perbankan yang bermasalah dengan perusahaan perbankan yang tidak bermasalah untuk periode prediksi empat tahun sebelum perusahaan perbankan mengalami masalah.

Kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan juga dilakukan oleh Dambolena dan Khoury (1980).  Dambolena dan Khoury menggunakan perusahaan retail dan perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitiannya, berjumlah 46 perusahaan yang terdiri dari 23 perusahaan bangkrut dan 23 perusahaan yang tidak bangkrut.  Dengan menggunakan discriminant procedure, Dambolena dan Khoury menganalisis 19 rasio keuangan dan menemukan bahwa rasio keuangan memiliki kemampuan untuk dijadikan sebagai prediktor kebangkrutan perusahaan-perusahaan retail dan manufaktur untuk lima tahun sebelum perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan.

Untuk menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan perbankan, penelitian sejenis telah dilakukan oleh Thomson (1991).  Thomson menganalisis sampel sebanyak 1.736 perusahaan perbankan yang sukses dan 770 perusahaan yang bangkrut selama periode enam tahun dari tahun 1984 sampai dengan 1989.  Dengan menggunakan logit regression, hasilnya menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan adalah fungsi dari variabel yang berkaitan dengan solvency, termasuk rasio-rasio capital, assets, management, earnings, dan liquidity (CAMEL) yang dimilikinya.  Thomson juga menemukan bahwa rasio CAMEL sebagai proxy variabel kondisi keuangan bank merupakan faktor signifikan yang berkaitan dengan kemungkinan kebangkrutan bank untuk periode empat tahun sebelum bank tersebut bangkrut.

O'Conner (1973) melakukan penelitian untuk menguji kemampuan rasio keuangan dalam memprediksi keuntungan saham dengan menggunakan sampel sebanyak 127 perusahaan.  Dengan menggunakan univariate dan multivariate analysis, O'Conner menguji 10 rasio keuangan dan menunjukkan bahwa rasio keuangan tidak memiliki kemampuan untuk dijadikan prediktor keuntungan saham.

Penelitian mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi keuntungan saham secara lebih komprehensif telah dilakukan oleh Ou dan Penman (1989).  Dengan menganalisis 68 rasio keuangan, Ou dan Penman bertujuan untuk menguji kegunaan analisis laporan keuangan dalam menaksir nilai perusahaan.  Hasilnya menunjukkan bahwa informasi akuntansi yang diindikasikan oleh rasio keuangan mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam harga saham.

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, pesatnya perkembangan pendekatan positivistik dalam penyusunan teori akuntansi telah mendorong dilakukannya penelitian-penelitian yang menghubungkan rasio keuangan dengan berbagai fenomena akuntansi dan ekonomi.  Berikut ini akan diuraikan beberapa di antaranya yang relevan untuk dijadikan sebagai landasan hipotesis penelitian ini, yaitu yang menghubungkan rasio keuangan dengan laba akuntansi.  Penelaahan yang lebih komprehensif terhadap studi-studi akuntansi mengenai rasio keuangan yang dihubungkan dengan fenomena-fenomena lainnya akan dilakukan pada bab berikutnya.

Penelitian yang terhitung cukup awal yang mencoba menolak hipotesis bahwa laba akuntansi mengikuti pergerakan yang bersifat acak (random walk hypothesis) adalah yang dilakukan oleh Freeman, dkk. (1982).  Mereka menggunakan logit procedure untuk menganalisis kandungan prediktif rasio Rate of Return (ROR).  Dengan menggunakan sampel sebanyak 31 perusahaan selama periode 32 tahun, Freeman, dkk. menyimpulkan bahwa rasio ROR memiliki kandungan informasi yang bersifat prediktif terhadap perubahan laba.

Ou (1990) menguji kekuatan dan kandungan informasi dari item data laporan keuangan selain laba (termasuk komponen laba) untuk memprediksi laba satu tahun yang akan datang.  Hasilnya menunjukkan sebanyak 8 rasio keuangan terbukti signifikan sebagai prediktor laba.

Penman (1992) melakukan penelitian terhadap 1.482 sampai dengan 1.677 perusahaan untuk periode 11 tahun dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1983.  Temuan empiris Penman menunjukkan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi yang relevan untuk mengevaluasi perubahan laba.  Lebih lanjut, Penman juga menunjukkan bahwa item laporan keuangan selain laba serta laporan keuangan beberapa tahun yang lalu berhubungan dengan persistensi perubahan laba.

Machfoedz (1994) menganalisis sejumlah rasio keuangan dan menghubungkannya dengan perubahan laba di Indonesia.  Dalam penelitian tersebut, Machfoedz menguji 47 rasio keuangan dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang mempublikasikan laporan keuangannya dari tahun 1989 sampai dengan 1992. Dengan menggunakan MAXR-Procedure, hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 13 rasio keuangan yang signifikan dalam memprediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang.

Zainuddin dan Hartono (1999) menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba yang didasarkan pada rasio CAMEL (Capital, Assets, Managements, Earnings, Liquidity).  Penelitian tersebut dilakukan terhadap seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.  Pengujian dilakukan terhadap rasio keuangan, baik pada tingkat individual maupun pada tingkat construct (gabungan dari rasio-rasio individual yang dijadikan satu variabel).  Dengan menggunakan analisis regresi untuk menganalisis rasio keuangan pada tingkat individual dan Analysis of Moment Structures (AMOS) untuk menganalisis pada tingkat construct, penelitian ini menunjukkan bahwa secara individual rasio keuangan tidak signifikan dalam memprediksi perubahan laba.  Akan tetapi, pada tingkat construct rasio keuangan Capital, Assets, Earnings, dan Liquidity signifikan dalam memprediksi perubahan laba.

D.  Hipotesis

Mengacu kepada review di atas, maka hipotesis nol (null hypothesis) yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

  1. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba satu tahun yang akan datang.

  2. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba dua tahun yang akan datang.

  3. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba tiga tahun yang akan datang.

  4. Rasio-rasio keuangan yang dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba tidak berbeda untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.  

III. Metode Penelitian

A.  Sifat dan Desain Penelitian

Penelitian ini didesain sebagai suatu studi empiris.  Dalam rangka menguji hipotesis yang telah dirumuskan, yaitu untuk membuktikan kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang, penelitian ini pada dasarnya menguji hubungan linier antara variabel independen yaitu rasio-rasio keuangan yang dihitung perubahan relatifnya dengan perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang sebagai variabel dependen, sehingga model prediksinya adalah :

                    D Eti = b0 + b1  D Fr1i + b2  D Fr2i + .... + bk  D Frki + eI                     (1)

di mana :

D Et

=

perubahan laba untuk periode t

D Fr1, 2,...., k

=

perubahan relatif rasio keuangan ke-1, 2, ...., k

b0

=

intercept,  perubahan  laba  yang  diasumsikan   jika   tidak  dihubungkan dengan perubahan relatif rasio keuangan

b1, 2, .., k

=

koefisien arah regresi rasio keuangan ke-1, 2, ..., k

e

=

Kesalahan residu

i

=

data observasi ke-i.

 

Hubungan yang diasumsikan di dalam desain penelitian ini mengikuti model linier.  Asumsi ini didasari oleh alasan periode prediksi yang ditetapkan yang relatif pendek, yaitu untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.

B.  Spesifikasi Variabel

Varialel dependen penelitian ini adalah perubahan laba.  Perubahan laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah perubahan laba relatif.  Digunakannya angka laba relatif didasari alasan angka laba tersebut lebih representatif dibandingkan laba absolut yang dimaksudkan untuk menghindari pengaruh ukuran perusahaan (Machfoedz, 1994).  Secara formal, penghitungan perubahan laba relatif adalah :

                                        (2)                                                                        

di mana :

DEi,t

=

perubahan laba untuk periode t

Ei,t

=

laba absolut pada periode yang dihitung angka perubahannya

Ei,t-1

=

laba absolut pada periode satu tahun sebelumnya

i

=

data observasi ke-i.

 

Indikator perubahan laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba sebelum pajak, tidak termasuk item extra ordinary dan discontinued operation.  Penggunaan laba sebelum pajak sebagai indikator perubahan laba dimaksudkan untuk menghindari pengaruh penggunaan tarif pajak yang berbeda antar periode yang dianalisis.  Alasan mengeluarkan item extra ordinary dan discontinued operation dari laba sebelum pajak adalah untuk menghilangkan elemen yang mungkin meningkatkan perubahan laba yang tidak akan timbul dalam periode yang lainnya (Zainuddin dan Hartono, 1994).

Variabel independen penelitian ini adalah perubahan relatif rasio keuangan.  Alasan penggunaan angka relatif rasio keuangan ini juga dimaksudkan untuk menghindari pengaruh variasi besaran perusahaan, sehingga formula penghitungannya adalah :

                                        (3)                                                                       

di mana :

DFrt

=

perubahan relatif rasio keuangan untuk periode t

Frt

=

rasio keuangan pada periode t

Fr(t-1

=

rasio keuangan periode t –1

I

=

data observasi ke-i.

 

Rasio-rasio keuangan yang dimasukkan ke dalam analisis sebanyak 49 yang diambil dari beberapa textbook tentang analisis keuangan serta dari penelitian-penelitian sebelumnya, terutama yang dilakukan oleh Machfoedz (1994).  Ke-49 rasio keuangan tersebut disajikan dalam Lampiran 1.

 

C.  Sampel dan Data

Populasi terbatas yang diteliti meliputi perusahaan manufaktur yang mempublikasikan laporan keuangan tahunannya di Pasar Modal.   Pembatasan populasi yang hanya meliputi perusahaan-perusahaan yang go public dimaksudkan untuk menghindari pengaruh perbedaan karakteristik antara perusahaan yang go public dengan perusahaan yang tidak go public (Zainuddin dan Hartono, 1999). 

Dari populasi tersebut, mula-mula sampel diambil secara purposive, yaitu perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang mempublikasikan laporan keuangannya pada tahun 1993, 1994, 1995, 1996, dan 1997.  Kemudian, dari sampel yang memenuhi kriteria tersebut dipilih sampel acak (random) dengan menggunakan angka random  sebanyak 62 perusahaan (50% dari jumlah populasi) untuk dijadikan sampel penelitian.

Data penelitian ini adalah laba dan rasio keuangan yang tersedia dan dapat dihitung dari laporan keuangan.  Dari laporan keuangan yang masuk ke dalam sampel, laporan keuangan tahun 1993 dan 1994 digunakan untuk menghitung perubahan relatif rasio keuangan.  Laporan keuangan tahun 1994, 1995, 1996, dan 1997 digunakan untuk menghitung perubahan laba.

D.  Metode Analisis

Dalam rangka menguji hubungan linier antara perubahan laba sebagai variabel dependen dengan perubahan relatif rasio-rasio  keuangan  sebagai variabel independen dilakukan pemilihan atas 49 rasio keuangan sebagaimana tersaji pada Lampiran 1 di atas, sehingga diperoleh rasio-rasio keuangan yang secara signifikan dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba.  Metode pemilihan variabel yang digunakan adalah stepwise regression dengan kriteria seleksi pada tingkat alpha 10% dan kriteria eliminasi pada tingkat alpha 12,5%.  Dengan metode ini, rasio-rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya sebagai variabel independen mula-mula dipilih yang memiliki korelasi parsial terbesar untuk kemudian diuji tingkat signifikansi hubungannya dengan perubahan laba.  Jika tingkat alphanya sama dengan atau lebih kecil dari kriteria seleksi 10% maka rasio keuangan tersebut akan dimasukkan ke dalam model prediksi.  Langkah berikutnya dilakukan dengan cara yang sama dengan langkah pertama, hanya saja pada setiap langkah memasukkan satu variabel ke dalam model akan dilakukan pengujian atas model yang baru terbentuk tersebut.  Jika pada sejumlah rasio keuangan  yang telah dimasukkan terdapat rasio keuangan yang karena pengaruh rasio keuangan lainnya memiliki tingkat alpha di atas kriteria eliminasi 12,5%, maka rasio keuangan tersebut akan dihilangkan dari model prediksi.  Langkah seleksi dan eliminasi ini akan dihentikan jika dari sekian banyak rasio keuangan yang belum dimasukkan sudah tidak ada lagi yang memiliki korelasi parsial dengan perubahan laba pada tingkat alpha yang sama dengan atau lebih kecil dari kriteria seleksi 10%, sedangkan model prediksi yang telah terbentuk sudah tidak lagi mengandung rasio keuangan yang memiliki tingkat alpha di atas kriteria eliminasi 12,5%.  Di antara metode pemilihan variabel yang baku yang tersedia, stepwise regression relatif memiliki kelebihan karena dengan prosedur seleksi dan eliminasi yang dilakukan pada setiap langkahnya memungkinkan analisis secara detail atas variabel-variabel yang akhirnya dimasukkan ke dalam model prediksi, baik secara individual maupun gabungan dari variabel-variabel tersebut (Mendenhall dan Reinmuth, 1982).

Hipotesis nol (null hypothesis) penelitian ini akan ditolak dalam arti terdapat hubungan yang signifikan antara rasio keuangan dengan perubahan laba di masa yang akan datang, jika setidaknya terdapat satu rasio keuangan yang terseleksi sebagai prediktor perubahan laba untuk masing-masing periode yang dianalisis.  Sebaliknya hipotesis nol (null hypothesis) akan diterima dalam arti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasio keuangan dengan perubahan laba di masa yang akan datang, jika tidak terdapat satu pun rasio keuangan yang terseleksi sebagai prediktor perubahan laba.Keseluruhan analisis dan pengujian statistik dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu perangkat lunak SPSS 6.0 for Windows.

 

IV. Analisis Data dan Pembahasan

A.  Deskripsi Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada data yang tersedia di dalam Indonesian Capital Market Directory tahun 1996, 1997, dan 1998, dan telah dikonfirmasikan validitasnya dengan Laporan Tahunan (Annual Report) yang dipublikasikan perusahaan yang terdapat pada Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di Bursa Efek Jakarta.  Berdasarkan pemilihan sampel yang telah dilakukan, diperoleh sampel sejumlah 62 perusahaan yang akan dimasukkan ke dalam analisis (lihat Lampiran 2).  Di antara 62 sampel tersebut, delapan perusahaan tidak mencatat akun Long-term Liability di dalam laporan keuangannya untuk tahun 1993 dan/atau 1994.  Hal ini mengakibatkan penghitungan rasio keuangan yang melibatkan akun Long-term Liability dan penghitungan perubahan laba relatifnya memiliki angka pembilang nol, sehingga hasilnya menjadi tidak terdefinisikan.  Delapan sampel ini kemudian dikeluarkan dari analisis, sehingga jumlah sampel yang dianalisis menjadi 54 perusahaan.

B.  Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Satu Tahun yang Akan Datang

Berdasarkan desain penelitian sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya, maka 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba untuk tahun 1995.  Jika secara statistik ditemukan hubungan yang signifikan, maka rasio keuangan dianggap memiliki kegunaan untuk dijadikan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang.  Dengan menggunakan metode pemilihan variabel stepwise regression terseleksi tujuh rasio keuangan untuk dimasukkan ke dalam model regresi.  Tujuh rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1
Rasio-Rasio Keuangan yang Terseleksi untuk Periode Prediksi Perubahan Laba
Satu Tahun yang Akan Datang

Multiple R :

0,77

Standard Error:

0,754

R Square :

0,59

F – Value :

9,294

Adjusted R Square :

0,52

Signif F :

0,000

Variables

b

 t – Value

Signif t

CGSI

CGSNS

NSQA

NSTR

PBTSE

WCNS

WCTA

(Constant)

1,19

-3,78

0,46

-0,86

-1,40

-0,44

1,01

0,33

4,776 

-3,446 

1,914 

-2,768 

-6,586 

-2,408 

3,428 

2,496

0,000 

0,001 

0,062 

0,008 

0,000 

0,020 

0,001 

0,016

Dari analisis varians diperoleh R Square sebesar 0,59.  Ini berarti kurang lebih 59% variasi perubahan laba satu tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) dapat dijelaskan dengan tujuh rasio keuangan yang terseleksi.  Nilai F sebesar 9,294 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1% menunjukkan bahwa setidaknya satu dari tujuh rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang.

Untuk dapat melakukan interpretasi statistik terhadap rasio keuangan secara individual terlebih dahulu harus diuji kemungkinan terjadinya multikolinieritas.  Multikolinieritas terjadi jika dua atau lebih variabel independen berkorelasi satu sama lain (Mendenhall dan Reinmuth, 1982).  Variabel yang menyebabkan multikolinieritas dapat dideteksi dari nilai tolerance yang lebih kecil dari 0,1 atau nilai VIF yang lebih besar dari 10 (Zainuddin dan Hartono, 1994).  Besarnya nilai tolerance dan nilai VIF dari rasio-rasio keuangan yang terseleksi disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2
Hasil Pengujian Kemungkinan Terjadinya Multikolinieritas
pada Rasio Keuangan untuk Periode Prediksi Satu Tahun

Variables

Tolerance Value

Variance Inflation Factor

CGSI

0,669

1,495

CGSNS

0,781

1,280

NSQA

0,632

1,583

NSTR

0,684

1,463

PBTSE

0,760

1,317

WCNS

0,101

9,923

WCTA

0,101

9,862

Dari hasil pengujian tersebut tampak bahwa rasio-rasio keuangan yang terseleksi memiliki nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dengan nilai VIF yang lebih kecil dari 10.  Ini menunjukkan bahwa dari semua rasio keuangan tersebut tidak ada satu pun yang menyebabkan terjadinya multikolinieritas, sehingga dapat dilakukan interpretasi statistik terhadap rasio-rasio keuangan secara individual.  Jika rasio-rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang, maka rasio-rasio keuangan tersebut bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun yang akan datang.

Parameter-parameter b yang disajikan dalam Tabel 3 menunjukkan tiga rasio keuangan memiliki korelasi positif dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang.  Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi : Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI), Net Sales to Quick Assets (NSQA), dan Working Capital to Total Assets (WCTA).  Empat rasio keuangan lainnya memiliki korelasi negatif dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang, yaitu :  Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS), Net Sales to Trade Receivables (NSTR), Profit before Taxes to Shareholders' Equity (PBTSE), dan Working Capital to Net Sales (WCNS).  Dari tujuh rasio keuangan tersebut, hanya satu yang "sedikit" konsisten dengan hasil penelitian Machfoedx (1994) yaitu rasio PBTSE.  Dikatakan "sedikit" konsisten karena rasio keuangan yang ditemukan Machfoedx sebenarnya adalah Profit After Taxes to Shareholders' Equity (PATSE).

Dengan menggunakan uji statistik t, rasio-rasio keuangan yang terseleksi berhubungan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang pada signifikansi dengan tingkat alpha lebih kecil atau sama dengan 6% dan lima di antaranya dengan tingkat alpha di bawah 1% (lihat Tabel 1).  Ini berarti rasio-rasio keuangan tersebut memiliki hubungan yang signifikan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang.  Dengan kata lain, hipotesis nol (null hypothesis) pertama penelitian ini ditolak yang berarti model regresi yang dihasilkan dalam analisis ini dapat digunakan sebagai model prediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang.

C.  Rasio Keuangan dan Perubahan Laba DuaTahun yang Akan Datang

Dalam rangka menguji hipotesis kedua, 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba tahun 1996.  Aplikasi stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang menghasilkan lima rasio keuangan yang terseleksi ke dalam model regresi.  Lima rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 3.

Analisis varians menunjukkan R Square sebesar 0,46 yang berarti bahwa kurang lebih 46% variasi perubahan laba dua tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) dapat dijelaskan oleh lima rasio keuangan yang terseleksi.  Besarnya nilai F adalah 8,158  dengan  signifikansi  pada tingkat alpha di bawah 1%, menunjukkan paling sedikit satu dari lima rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang.

Tabel 3
Rasio-Rasio Keuangan yang Terseleksi untuk Periode Prediksi Perubahan Laba
Dua Tahun yang Akan Datang  

Multiple R :

0,68

Standard Error:

2,296

R Square :

0,46

F - Value :

8,158

Adjusted R Square :

0,40

Signif F :

0,000

Variables

b

t - Value

Signif t

CGSI

-2,21

-1,722

0,092

CGSNS

36,05

5,384

0,000

GPNS

8,69

3,721

0,001

INS

-4,52

-2,416

0,020

OPPBT

0,35

4,626

0,000

(Constant)

0,53

1,448

0,154

Pengujian atas variabel yang mungkin menyebabkan multikolinieritas disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4
Hasil Pengujian Kemungkinan Terjadinya Multikolinieritas
pada Rasio Keuangan untuk Periode Prediksi Dua Tahun

Variables

Tolerance Value

Variance Inflation Factor

CGSI

0,236

4,242

CGSNS

0,195

5,135

GPNS

0,192

5,203

INS

0,179

5,573

OPPBT

0,771

1,297

Pengujian tersebut memberikan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF yang lebih kecil dari 10, sehingga semua rasio keuangan yang terseleksi tidak mengandung multikolinieritas dan dapat dianalisis secara individual.

Pengujian statistik t menunjukkan semua rasio keuangan berhubungan secara individual dengan perubahan laba dua tahun yang akan datang pada tingkat signifikansi dengan tingkat alpha lebih kecil dari 10% (lihat Tabel 3).  Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi :  Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI), Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS), Gross Profit to Net Sales (GPNS), Inventories to Net Sales (INS), dan Operating Profit to Profit before Taxes (OPPBT).  Tiga dari lima rasio keuangan tersebut signifikan pada tingkat alpha di bawah 1%.   Hasil pengujian ini menolak hipotesis nol (null hypothesis) kedua penelitian ini yang berarti bahwa rasio-rasio keuangan ternyata masih memiliki kegunaan prediktif terhadap perubahan laba dua tahun yang akan datang yang  oleh karenanya  temuan ini merupakan perluasan atas beberapa hasil penelitian sebelumnya.

D.  Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Tiga Tahun yang Akan Datang

Pengujian hipotesis ketiga juga dilakukan dengan memasukkan 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 ke dalam stepwise regression untuk diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba tahun 1997. Akan tetapi, pengujian ini hanya dilakukan terhadap sampel sebanyak 50 perusahaan.  Hal ini disebabkan empat perusahaan yang semula masuk ke dalam sampel tidak mempublikasikan laporan keuangannya untuk tahun 1997. 

Pengujian kegunaan rasio keuangan untuk memprediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang menghasilkan dua rasio keuangan yang akhirnya terseleksi ke dalam model regresi.  Dua rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5
Rasio-Rasio Keuangan yang Terseleksi untuk Periode Prediksi Perubahan Laba
Tiga Tahun yang Akan Datang  

Multiple R :

0,46

Standard Error:

68,831

R Square :

0,21

F - Value :

6,222

Adjusted R Square :

0,18

Signif F:

0,004

Variables

b

  t - Value

Signif t

IWC 

QATA 

(Constant)

 

-21,97 

-42,96 

-6,82

 

-3,527 

-2,154 

-0,659

 

0,001 

0,036 

0,513

 

Besarnya R Square menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang relatif rendah, yaitu hanya 21% dari variasi perubahan laba tiga tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) yang dapat dijelaskan oleh dua rasio keuangan yang terseleksi.  Hal ini selain disebabkan oleh kemungkinan tidak dimasukkannya variabel lain yang  berpengaruh   (di luar 49 rasio keuangan yang telah dimasukkan) ke dalam analisis, juga bisa disebabkan oleh perilaku rasio-rasio keuangan yang dianalasis yang tidak lagi bisa dijajagi secara linier.  Meskipun demikian, pengujian statistik F masih menghasilkan nilai F sebesar 6,222 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1%.  Hal ini menunjukkan setidaknya satu dari dua rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang.

Pengujian atas variabel yang mungkin menyebabkan multikolinieritas disajikan dalam Tabel 6.  Pengujian tersebut masih menunjukkan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dengan nilai VIF yang lebih kecil dari 10.  Ini berarti dua rasio keuangan yang terseleksi dapat dianalisis secara individual.

Tabel 6
Hasil Pengujian Kemungkinan Terjadinya Multikolinieritas
pada Rasio Keuangan untuk Periode Prediksi Tiga Tahun

Variables

Tolerance Value

Variance Inflation Factor

IWC

0,641

1,560

QATA

0,641

1,560

Berdasarkan uji statistik t, dua rasio keuangan yang terseleksi berhubungan secara individual dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang pada signifikansi di bawah tingkat alpha 5%, yaitu Inventories to Working Capital (IWC) pada tingkat alpha 0,1% dan Quick Assets to Total Assets (QATA) pada tingkat alpha 3,6% (lihat Tabel 5).  Hasil pengujian ini, terlepas dari kebaikan penjajagan data (goodness of fit) model ini yang relatif rendah, berhasil menolak hioptesis nol (null hypothesis) ketiga penelitian ini yang berarti rasio keuangan ternyata masih memiliki kegunaan prediktif atas perubahan laba untuk tiga tahun yang akan datang.

E. Perbedaan Model Prediksi antar Periode

Review atas hasil-hasil pengujian hipotesis pertama, kedua, dan ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa model prediksi perubahan laba satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang berbeda satu sama lain (lihat Tabel 7).  Dari tabel tersebut tampak, meskipun rasio Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI) dan Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS) bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun dan dua tahun yang akan datang, akan tetapi arah korelasi kedua rasio tersebut berlawanan untuk masing-masing periode prediksi.

Tabel 7
Perbandingan Model Prediksi Perubahan Laba
Satu Tahun, Dua Tahun, dan Tiga Tahun yang Akan Datang  

Variabel

Arah Korelasi

Satu Tahun

Dua Tahun

Tiga Tahun

CGSI 

CGSNS 

GPNS 

INS 

IWC 

NSQA 

NSTR 

OPPBT 

PBTSE 

QATA 

WCNS 

WCTA

 

+

-

 

 

 

+

-

 

-

 

-

+

-

+

+

-

 

 

 

+

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

-

 

 

Terdapat pula kecenderungan semakin berkurangnya kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang diikuti oleh penurunan jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba dengan semakin panjangnya periode prediksi.  Hal ini sebagaimana telah disinggung sebelumnya mungkin disebabkan oleh tidak dimasukkannya variabel lain yang berpengaruh ke dalam analisis dan/atau menunjukkan semakin berkurangnya linieritas model prediksi seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi.

Dengan menghubungkan tujuh rasio keuangan prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang terhadap perubahan laba dua tahun dan tiga tahun yang akan datang, diperoleh angka-angka statistik sebagaimana disajikan dalam Tabel 8.  Dari Tabel 8 tampak bahwa kemampuan penjajagan data (goodness of fit) model regresi juga semakin rendah dengan semakin panjangnya periode prediksi.  Pengujian statistik F dan statistik t untuk periode prediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang bahkan menunjukkan tidak adanya signifikansi hubungan antara tujuh rasio keuangan yang dimasukkan ke dalam analisis dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang.

Tabel 8
Aplikasi Model Prediksi Satu Tahun untuk Memprediksi Perubahan Laba
Dua Tahun dan Tiga Tahun yang Akan Datang  

Hasil Analisis Varians

 Statistik

2 Tahun

3 Tahun

Statistik

2 Tahun

3 Tahun

Multiple R: 

R Square:

Adj. R Sq.:

0,43 

0,18 

0,06

0,14 

0,02 

-0,14

Std. Error

 F-Value

 Signif F

2,883

 1,475 

0,200

81,118

 0,114

 0,997

Analisis Variabel Independen Individual

Variabel

Dua Tahun

Tiga Tahun

t-Value

Signif t

t-Value

Signif. t

CGSI 

CGSNS 

NSQA 

NSTR 

PBTSE 

WCNS 

WCTA 

(Constant)

 

0,470 

2,540 

-1,409 

0,894 

0,645 

-1,147 

1,240 

1,226

0,641 

0,015 

0,165 

0,376 

0,522 

0,257 

0,221 

0,226

0,299 

0,283 

0,114 

0,215 

-0,052 

-0,184 

0,372 

-0,598

0,767 

0,779 

0,910 

0,831 

0,959 

0,855 

0,712 

0,553

Dari sini tampak, bahwa meskipun tasio-rasio keuangan secara statistik dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba, baik untuk satu tahun, dua tahun, maupun tiga tahun yang akan datang, akan tetapi model prediksi untuk masing-masing periode prediksi tersebut berbeda satu sama lain.  Ini berarti hipotesis nol (null hypothesis)  keempat penelitian ini juga berhasil ditolak.  

V. Kesimpulan dan Implikasi

A.  Kesimpulan

Jika angka-angka statistik sebagaimana dibahas dalam bab sebelumnya harus digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan, maka beberapa temuan penelitian ini dapat diringkaskan sebagai berikut :

  1. Penelitian ini menemukan bukti secara statistik bahwa tujuh rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang.  Temuan ini secara umum sesuai dengan temuan beberapa penelitian sebelumnya, meskipun secara mencolok masih menunjukkan inkonsistensi rasio-rasio keuangan individual yang terseleksi ke dalam model prediksi yang dihasilkan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-penelitian tersebut.  Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan-perbedaan pada tataran prosedural dari penelitian-penelitian tersebut

  2. Perluasan temuan penelitian ini adalah bahwa lima rasio keuangan ternyata juga dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang.  Temuan ini diperoleh dengan mengulang aplikasi metode pemilihan variabel stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang.

  3. Pengulangan aplikasi metode stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang juga berhasil menemukan bukti statistik bahwa dua rasio keuangan memiliki kegunaan prediktif terhadap perubahan laba tiga tahun yang akan datang, meskipun model prediksi yang dihasilkan untuk periode tiga tahun ternyata menunjukkan angka koefisien determinasi yang relatif kecil yang menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang relatif rendah.

  4. Berdasarkan temuan-temuan tersebut di atas dapat diketahui pula adanya perbedaan model prediksi perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.  Selain itu, kemampuan penjajagan data (goodness of fit) juga semakin menurun yang diikuti oleh pengurangan jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi. 

B.  Implikasi

Apabila penelitian-penelitian sejenis masih dianggap perlu untuk dilanjutkan dalam kerangka penyusunan teori formal tentang analisis laporan keuangan, maka beberapa implikasi dari penelitian ini adalah :

  1. Dengan masih relatif sedikitnya temuan-temuan empiris tentang kegunaan objektif rasio keuangan terhadap perubahan laba termasuk pengkayaan desain penelitiannya, maka replikasi penelitian ini dengan inovasi-inovasi sistematis perancangannya masih sangat penting untuk dilakukan, terutama untuk mendapatkan kepastian tentang konsistensi rasio-rasio keuangan individual yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba.

  2. Kecenderungan menurunnya angka koefisien determinasi (goodness of fit) model prediksi yang diikuti oleh berkurangnya rasio-rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi, selain memerlukan elaborasi hipotetis tentang variabel-variabel penyebab perubahan laba juga menuntut dilakukannya inovasi desain penelitian yang melampaui model linier. 

  3. Salah satu keterbatasan penelitian ini yang mendasarkan kepada time-series data adalah tidak dimasukkannya indikator-indikator ekonomi makro dalam desain penelitiannya.  Terutama di negara berkembang seperti Indonesia, tingkat inflasi misalnya, merupakan variabel yang secara logis sangat berpengaruh terhadap angka-angka akuntansi sebagai data mentah penelitian ini.

  4. Perluasan temuan penelitian ini, yakni adanya bukti statistik tentang kegunaan prediktif rasio keuangan terhadap perubahan laba dua tahun (dan tiga tahun) yang akan datang mengindikasikan fenomena yang "anomalis" menyangkut rasio Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI) dan Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS).  Kedua rasio keuangan tersebut tampak memiliki kegunaan prediktif, baik terhadap perubahan laba satu tahun maupun dua tahun yang akan datang, akan tetapi dengan arah korelasi yang berlawanan antar periode prediksi.  Hasil ini dikatakan anomalis karena sulit diinterpretasikan dengan penalaran yang logis meskipun bisa saja dijelaskan sebagai akibat dari perilaku perubahan laba akuntansi sebagai time series data yang tidak berkorelesai linier terhadap dua rasio keuangan tersebut seiring dengan berlalunya waktu.  Akan tetapi, hasil tersebut telah mengingatkan penulis kepada kritik yang dilontarkan oleh Gilman (1925) sehubungan dengan kecenderungan penggunaan angka-angka rasio keuangan (termasuk angka perubahan relatifnya) sebagai indikator fundamental dalam praktek bisnis dan studi ekonomi (Lihat hal. 13).  Hal ini secara lebih jauh berimplikasi kepada keharusan melakukan pengkajian-pengkajian teoritis yang lebih intensif terhadap rasio keuangan dan fenomena-fenomena akuntansi lainnya, bahkan sampai pada tataran yang bersifat metodologis.  Kenyataannya, meskipun aplikasi pendekatan positivistik dalam akuntansi telah dikembangkan lebih dari dua dekade, bukankah belum terlihat kontribusi yang cukup bermakna yang telah diberikannya, baik pada dimensi teoritis maupun terhadap praktek akuntansi yang tengah berlangsung?

 

Daftar Pustaka 

Altman, E. I. 1968. "Financial Ratios, Discriminant Analysis, and the Prediction of Corporate Bankruptcy." Journal of Jinance (September) :  589 - 609.

Brigham, E. F.  1991.  Fundamentals of Financial Management.  Sixth Edition, New York: Dryden Press.

Dambolena I. G. dan S. J. Khoury.1980. "Ratio Stability and Corporate Failure." The Journal of Finance (September) :  1017 - 1026.

FASB. 1978.  Statement of Financial Accounting Concepts Ho. 1.  Objectives of Jinancial Reporting by Business Enterprises.

FASB. 1980. Statement of Financial Accounting Concepts No. 2, Qualitative Characteristics of Accounting Information.

Freeman, R. N., J. A. Ohlson, dan S. M. Penman.  1982.  “Book Rate-of-Return and Prediction of Earnings Changes,” Journal of Accounting Research (Autumn) :  639 - 653.

Friedlob, G. T., dan F. J. Plewa, Jr.  1996.  Understanding Balance Sheet.  New York :  John Willey and Sons, Inc.

Fuad Hassan dan Koentjaraningrat.  1997.  “Beberapa Azas Metodologi Ilmiah,” Metode-Metode Penelitian Masyarakat (Koentjaraningrat, Red.). Edisi Ketiga, Jakarta :  PT Gramedia Pustaka Utama.

Gibson, C. H. 1982.  “How Industry Perceived Financial Ratios,” Management Accounting (April) :  13 - 19.

Griffin, P. A. 1976.  “Competitive Information in the Stock Market :  An Empirical Study on Earnings, Dividends, and Analyst Forecasts,” Journal of Finance (May) :  631 - 650.

Helfert, E. A.  1991.  Analisis Laporan Keuangan (terj. Herman Wibowo), Edisi Ketujuh, Jakarta :  Penerbit Erlangga.

Hendriksen. 1982. Teori Akuntansi (terj. Marianus Sinaga). Jld. 1. Jakarta :  Penerbit Erlangga.

Houghton, K. A. 1984. “Accounting Data and the Prediction of Business Failure :  The Setting of Prior and Age of Data.” Journal of Accounting Research (Spring) :  361 - 368.

Lee, J. Y. dkk. 1982. “Use Only Four Financial Ratios to Predict Failure, Bond Ratings.” Journal of Business Forecasting (Winter) :  24 - 25.

Machfoedz, M.  1994.  “Financial Ratios Analysis and the Earnings Changes in Indonesia,”  Kelola, No. :  114 - 137.

Mendenhall, W., dan J. E. Reinmuth.  1982.  Statistik untuk Manajemen dan Ekonomi (terj. Drs. Sumarno Zain, MBA dkk). Jld. 2.  Jakarta :   Penerbit Erlangga.

O'Conner, M. C. 1973. On the Usefulness of Financial Ratios to Investors in Common Stock." The Accounting Review (April) :  339 - 352.

Ou, J. A. 1990. The Information Content of Nonearnings Accounting Numbers as Earnings Predictors." Journal of Accounting Research (Spring) :  392 -411.

Ou, J. A. dan S, H. Penman. 1989. "Financial Analysis and of Stock Return." Journal of Accounting and Economics 11:  295 - 329.

Penman, S. H.  1992.  “Financial Statement Information of Earnings Change,”  The Accounting Review (July) :  563 - 577.

Pinches, G. E. dkk. 1973. “The Hierarchical Classification of Financial Ratios.” Journal of Business Research (October) :  294 - 309.

Rege, U. P. 1984. “Accounting Ratios to Locate Take-over Target.” Journal of Business, Finance, and Accounting (Autumn) :  301 - 311.

Sinkey, J. F. Jr. 1975. "A Multivariate Statistical Analysis of the Characteristics of Problem Banks." The Journal of Finance (March) :  21 - 36.

Smith, J. M., dan K. F. Skousen.  1987.  Akuntansi Intermediate :  Volume Komprehensif (terj. Tim Penerjemah Penerbit Erlangga).  Edisi Kesembilan, Jakarta :  Penerbit Erlangga.

Supranto, J. 1989.  Statistik:  Teori dan Aplikasi.  Edisi Kelima.Jld. 2.  Jakarta :  Penerbit Erlangga.

Thomson, J. B. 1991. "Predicting Bank Failure in 1980s." Economics Review (First Quarter) :  9 - 20.

Tim Penelitian dan Pengembangan WAHANA KOMPUTER Semarang. 1996. Panduan Lengkap SPSS 6.0 for Windows.  Yogyakarta :  Penerbit ANDI.

Whittred, G., dan I. Zimmer. 1984. “Timeliness of Financial Reporting and Financial Distress.” The Accounting Review (April) :287 - 295.

Zainuddin dan J. Hartono. 1999.  “Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba,”  Jurnal  Riset Akuntansi Indonesia (Januari) ;  66 - 90.

Lampiran 1
Rasio-rasio Keuangan yang Dimasukkan dalam Analisis  

Kategori

Rasio Keuangan  

Liquidity

Current Assets to Current Liabilities (CACL)

Cash to Current Liabilities (CCL)

Quick Assets to Current Liabilities (QACL)

 

Solvency

Current Assets to Total Liabilities (CATL)

Shareholders' Equity and Long-term Liabilities to Fixed Assets (SELLFA)

Shareholders' Equity and Total Liabilities to Fixed Assets (SETLFA)

 

Profitability

Gross Profit to Net Sales (GPNS)

Operating Profit to Net Sales (OPNS)

Profit Before Taxes to Net Sales (PBTNS)

Profit After Taxes to Net Sales (PATNS)

Operating Profit to Profit Before Taxes (OPPBT)

 

Productivity

Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI)

Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS)

Current Assets to Total Assets (CATA)

Inventories to Net Sales (INS)

Inventories to Working Capital (IWC)

Net Sales to Cash (NSC)

Net Sales to Trade Receivables (NSTR)

Net Sales to Quick Assets (NSQA)

Net Sales to Fixed Assets (NSFA)

Net Sales to Total Assets (NSTA)

Quick Assets to Inventories (QAI)

 

Investment Intensiveness

Current Assets to Net Sales (CANS)

Inventories to Total Assets (ITA)

Quick Assets to Total Assets (QATA)

Shareholders' Equity to Net Sales (SENS)

Working Capital to Fixed Assets (WCFA)

Working Capital to Total Assets (WCTA)

Working Capital to Net Sales (WCNS)

 

Equity

Current Liabilities to Shareholders' Equity (CLSE)

Long-term Liabilities to Shareholders' Equity (LLSE)

Total Liabilities to Shareholders' Equity (TLSE)

Shareholders' Equity to Total Liabilities (SETL)

Net Sales to Current Liabilities (NSCL)

Profit After Taxes to Total Liabilities (PATTL)

 

Indebtedness

Current Liabilities to Total Assets (CLTA)

Long-term Liabilities to Total Assets (LLTA)

Total Liabilities to Current Assets (TLCA)

Operating Expenses to Net Sales (OENS)

Operating Profit to Total Liabilities (OPTL)

 

Leverage

Current Liabilities to Inventories (CLI)

Total Liabilities to Total Assets (TLTA)

Sharholders' Equity to Fixed Assets (SEFA)

Shareholders' Equity to Total Assets (SETA)

 

Return on Investment

Profit Before Taxes to Total Assets (PBTTA)

Profit Before Taxes to Shareholders' Equity (PBTSE)

Profit After Taxes to Fixed Assets (PATFA)

Profit After Taxes to Total Assets (PATTA)

Profit After Taxes to Shareholders' Equity (PATSE)

 

 

Lampiran 2
Perusahaan-perusahaan yang Terpilih sebagai Sampel

Kategori Industri

Nama Perusahaan

Adhesive

Intan Wijaya Chemical Industry

Kurnia Kapuas Utama Glue Indonesia

 

Aperal and Oteher Textil Products

Concord Benefit Enterprises

Indomulti Inti Industri**

Sepatu Bata

Super Mitory Utama

Telagamas Pertiwi**

 

Automotive and Allied Products

Astra International

Gadjah Tunggal

Goodyear Indonesia

Intraco Penta*

Lippo Industries

 

Cables

Kabelindo Murni

Supreme Cable Manufacturing Corporation

Voksel Electric

 

Cement

Semen Gresik

 

Chemical and Allied Products

Unggul Indah Corporation

 

Consumer Goods

Tancho Indonesia*

Unilever Indonesia

 

Electronic and Office Equipment

 

Astra-Graphia

Multipolar Corporation

Texmaco Perkasa Engineering

Trafindo Perkasa

 

Food and Beverages

Delta Djakarta

Fast Food Indonesia

Indofood Sukses Makmur

Miwon Indonesia

Multi Bintang Indonesia

Prasidha Aneka Niaga

Sari Husada

Sekar Laut

Suba Indah

Ultrajaya Milk Industry and Trading Company

 

Lumber and Wood Products

 

Barito Pacific Timber

Sumalindo Lestari Jaya

 

Metal Products

 

Jaya Pari Steel*

Lionmesh Prima*

Lion Metal Works*

Tembaga Mulia Semanan*

 

Paper and Allied Products

 

Fajar Surya Wisesa

Inti Indorayon Utama

Pabrik Kertas Tjiwi Kimia

Suparma

 

Pharma ceuticals

 

Darya-Varia Laboratoria

Merck Indonesia

Tempo Scan Pacific

 

Photographic Equipment

 

Inter Delta

Perdana Bangun Pusaka

 

Plastics and Glass Products

 

Argha Karya Prima Industries

Dynaplast

Langgeng Makmur Plastic Industry Ltd.

Ugahari**

 

Textils

 

Eratex Dhaya Ltd.*

Great Golden Star

Indorama Synthetics

Roda Vivatex

 

Textil Mill Products

 

Texmaco Jaya

Unitex**

 

Tobacco Products

 

BAT Indonesia

 

Other Manufacturing

 

Branta Mulia

Kedaung Indah Can*

Surya Toto Indonesia

 

*Sampel yang dikeluarkan dari analisis

**Sampel yang dikeluarkan dari analisis untuk periode prediksi tiga tahun

Sumber :  Indonesian Capital Market Directory tahun 1996, 1997, 1998  

[Teras | Info Situs | Tentang Kita | Galeri | Curriculum Vitae | Publikasi | Katalog | Download | Kontak Kita]

Designed by Warsidi, S.E., Ak.
First published: August 9, 2001
Last modified: March 26, 2002